Memantau ribuan situs ekstremis

Nur Azlin M Yasin di kantor monitornya
Image caption Nur Azlin M Yasin memantau ratusan situs berbahasa Indonesia

Tim pemantuan situs-situs internet ekstrem dari Rajaratnam School of International Studies (RSIS) di Singapura mengatakan, tindakan penguasa Indonesia melupuhkan beberapa tersangka tokoh teroris, seperti Nurdin M Top, tidak menyurutkan semangat para ekstemis dan pendukung mereka berkimunikasi lewat berbagai jejaring sosial.

Nur Azlin Mohamed Yasin, salah seoarang anggota tim pemantau itu, mengatakan para peserta diskusi internet itu menunjukkan bahwa mereka ingin lebih proaktif dalam apa yang mereka sebut sebagai jihad.

"Apabila ada terbit manual-manual (buku petunjuk) tentang senjata atau pembuat bom, maka ekspresi yang diungkapkan biasanya 'Allahu Akbar'," kata Nur Azlin kepada Asyari Usman dari BBC Indonesia.

Menurut Azlin, mereka yakin bahwa forum internet mereka itu adalah forum yang diizinkan Allah dan kerena itu bisa mendapatkan bahan-bahan berupa petunjuk senjata dan bom tersebut.

Nur Azlin menambahkan, para peserta diskusi internet itu tidak ada yang mengatakan bahwa mereka ingin menggunakan manual-manual yang ada itu.

Lebih gencar

Akan tetapi, kata peneliti RSIS tersebut, sejak November 2008 kecenderungannya adalah bahwa para ekstremis dan peserta lain diskusi jejaring sosial itu semakin gencar menyatakan keinginannya untuk bertindak.

"Kita ada punya manual, apa yang harus kita lakukan? Kita harus lakukan sesuatu," kata Azlin mengutip berbagai komentar internet yang ditakannya berasal dari kaum ekstremis.

"Jadi, keinginan mereka itu dipaparkan dengan lebih gencar lagi," ujar Azlin.

Pelumpuhan Nurdin M Top dan operasi kepolisian di Aceh baru-baru ini yang menangkap dan menewaskan sejumlah tersangka teroris, menjadi topik yang hangat dibahas.

Pasca kematian Nurdin Top, diskusi ekstremisme bukannya menyurut melainkan semakin menguat, kata Azlin.

"Yang kita lihat langsung setelah penembakan itu, para peserta forum mengelu-elukan Nurdin Mohamad Top dan gerakannya.

"Dari situ semakin gencarlah mereka mengeluk-elukan orang yang mereka anggap sebagai muhajid," kata Nur Azlin.

Ketika diberitakan operasi kepolisian di Aceh yang menangkap dan menewaskan beberapa orang yang diduga terkait gerakan teroris, para peserta forum internet tidak percaya terhadap keberadaan kelompok/gerakan itu.

"Tetapi setelah beberapa jam kemudian, lebih banyak yang percaya bahwa kelompok itu memang ada. Dan mereka mengeluk-elukan apa yang mereka anggap jihad itu," kara Azlin.

Murni atau iseng

Ketika ditanyakan apakah para peserta diskusi internet memang murni ekstremis atau hanya sekadar orang-orang iseng yang punya banyak waktu untuk berada di depan internet, Nur Azlin mengataka memang ada kemungkinan sebagian mereka itu bukan ekstremis sejati.

Dikatakannya, ada pula peserta diskusi yang ingin mempelajari Islam tetapi mereka 'tersesat' oleh diskusi-diskusi ekstremisme itu.

"Dari apa yang saya lihat di internet, ada diantara mereka yang ingin mengetahui Islam tapi, malangnya, mereka terselewengkan," kata Azlin.

Indonesia terbanyak

Tim pemantau situs eksemis di RSIS melakukan monitoring terhadap ribuan laman yang mereka golongkan sebagai forum pendukung ekstremisme.

Ada sekitar 5.500 sampai 6.000 situs internet di seluruh dunia yang menggalakkan gagasan ekstrem dan radikal.

Di Asia Tenggara, ada 192 situs --termasuk jejaring sosial-- yang mendiskusikan ekstremisme. Dari jumlah ini, kata Azlin, sebagain besar menggunakan bahasa Indonesia.

"Ada juga bahasa-bahasa lain, tetapi kebanyakannya adalah bahasa Indonesia," ujar Nur Azlin M Yasin.

Image caption Situs arrahman.com mendukung gerakan jihad